Bagian Satu: Hidup
1998 merupakan tahun dimana aku dilahirkan ke dunia nyata. Saat itu aku mempunyai dua orang kakak laki - laki. Aku tidak tahu apakah mereka benar - benar hidup atau tidak. Jangankan kakak - kakakku, aku juga tidak tahu apakah aku benar - benar hidup di dunia nyata. Aku terlahir dengan kedua mata yang indah, dengannya aku jamin kalian akan melihat gambaran bumi yang aneh.
Tahun 98 merupakan tahun yang sangat berat bagi keluargaku, terutama ayah. saat itu ia harus meninggalkan rapat promosi jabatannya untuk melihatku dilahirkan ke dunia ini. Baginya kenaikan jabatan bukanlah suatu hal yang menarik dibanding melihat mataku terbuka. Sejak aku melihat ayah untuk pertama kalinya, maka sejak itulah aku tahu bahwa ia bukan orang yang tepat untuk masalah agama. Walaupun demikian, ia tetap menyanggupi untuk mengumandangkan azan tepat disamping telingaku dengan suara datar nan tak bernada. Bahkan suaranya tak mampu untuk merubah ekspresi wajahku saat itu. Tapi tentu saja hatiku tetap bergetar dan aku tahu bahwa suara datarnya itu adalah suara dengan nada terindah di atas bumi ini.
Ayahku dilahirkan di Venice van Java. Ayahnya seorang mantan tentara kemerdekaan yang kini beralih profesi menjadi PNS. Gajinya tak seberapa, tetapi keluarga ayahku tetap bisa makan paling tidak 2 kali sehari dengan lauk satu telur goreng untuk dibagi 8 orang. Itupun kalau ada. Biasanya hanyalah nasi dengan minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak sisa yang sebelumnya telah digunakan untuk memasak sesuatu. Dalam hal ini, minyak jelantah itu adalah hasil sisa menggoreng ikan. Kata ayahku makan nasi dengan minyak jelantah sangatlah enak, seperti memakan nasi dengan lauk ikan ataupun udang. Tak jarang saudara kandungnya meminta lebih. Keluarganya bukanlah keluarga yang terdidik dengan adat dan istiadat muslim. Sangat jarang terlantun ayat suci al-qur'an dari mulut - mulut penghuninya.
Kehidupan tahun 60an memang tidak begitu membosankan. Apalagi dengan 7 saudara kandung ayahku yang memiliki sifat berbeda - beda. Kakak pertamanya adalah raja kedua di keluarganya. Kadang ia naik posisi pertama. Badannya besar dan fisiknya tangguh. Bagaimana tidak, umur 4 tahun saja sudah bisa membuat temannya masuk rumah sakit dan mendapatkan luka jahit untuk hadiah lebaran. Dia juga merupakan menteri pertahanan kompleknya. Artinya, masalah berkelahi bukan lagi menjadi perbincangan warga komplek. Saat kakak sulung berkelahi, tak seorangpun yang akan melerainya sampai dirasa rumah sakit adalah tujuan dari yang kalah. Tetapi tenanglah kawan. Dia berkelahi bukan tanpa alasan, bukan juga untuk menyombongkan kekuatannya. Ia hanya ingin menyelesaikan seluruh permasalahan dengannya, dengan warga kompleknya, dan juga dengan keluarganya. Ia sangat menyukai lagu dangdut. Ia juga sangat romantis kepada pacarnya. Walaupun begitu, keluarga baginya adalah yang pertama. Ia tidak pandai dalam berdebat maupun dalam matematika. Ia tidak menggunakan persamaan dua variabel untuk memesan segelas jahe dan 2 buah gorengan di warung. Ia juga tidak pandai dalam menasihati adik - adiknya. Tetapi ia tahu betul apa arti hidup baginya.
Dari 8 bersaudara, hanya ayahku lah yang tahu cara membedakan buku, alas kepala, payung saat hujan, dan hiasan rumah. Bagi yang lainnya buku - buku adalah alas kepala, payung saat hujan dan hiasan rumah. Dan huruf didalam buku hanyalah mantera dan doa untuk mendapat pekerjaan yang tidak mungkin didapatkan di masa depan. Yang terpenting bagi mereka adalah mereka dapat menghasilkan sepeser uang disaat ayahku hanya duduk membaca buku di sekolah. Di lain sisi mereka adalah anak - anak yang hormat kepada orang tua. Tidak pernah ada pertikaian dalam rumah tangga, karena mereka mengerti kebutuhan setiap orang dalam keluarga itu sangatlah berbeda. Mungkin bagi mereka sepiring nasi dengan seperdelapan telur goreng adalah yang terpenting. Dan buku - buku dengan segala mantera didalamnya adalah hal terpenting untuk ayahku.
Ayahku melanjutkan kuliah di sebuah perguruan ternama di kota lumpia. Karena dia tahu, menjadi lulusan SMA tidak akan pernah cukup untuk membuat rumahnya berlantai dua yang dijaga oleh dua orang security dan memiliki kolam renang pribadi didalamnya. Ia memiliki mimpi yang sangat besar untuk dirinya dan terutama untuk keluarganya.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, Ayahku akhirnya memutuskan untuk mencari kota di jakarta. Baginya pekerjaan pertama tidak terlalu sulit untuk didapatkan. Karena pada saat itu hanya segelintir orang saja yang menyandang gelar sarjana. Sambil berkerja ia juga mencari beasiswa untuk melanjutkan studi Magister. Karena gaji pokoknya tidak akan pernah cukup untuk membiayai studi lanjutannya itu. Ia harus membayar kontrakan tiap bulannya, mengirim sepertiga gajinya untuk keluarga yang ditinggalkannya, dan tentu saja untuk biaya sehari - hari.
5 Bulan setelah itu, ia akhirnya dibiayai oleh perusahaan tempat ia sendiri berkerja untuk melanjutkan studi lanjutannya itu. Setiap pagi hari pukul 08:00 ayahku harus sudah ada di kantor dan tepat pukul 19 ia mengendarai sepeda motor bututnya untuk pergi menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di kota Jakarta. Baginya itu bukanlah hal yang baru, ia sudah terbiasa dengan lingkungan keluarganya dahulu.
5 Bulan setelah itu, ia akhirnya dibiayai oleh perusahaan tempat ia sendiri berkerja untuk melanjutkan studi lanjutannya itu. Setiap pagi hari pukul 08:00 ayahku harus sudah ada di kantor dan tepat pukul 19 ia mengendarai sepeda motor bututnya untuk pergi menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di kota Jakarta. Baginya itu bukanlah hal yang baru, ia sudah terbiasa dengan lingkungan keluarganya dahulu.

Kommentare
Kommentar veröffentlichen